"E-Court merupakan respon atas tuntutan dan perkembangan zaman, terlebih di era disruptif. Kata disruptif secara bahasa berarti mengganggu. Sedangkan kata disruption awalnya muncul dalam dunia bisnis, ketika terdapat inovasi-inovasi yang merusak pasar tradisional. Sebagai contoh adalah munculnya media digital yang merusak pasar media cetak. Begitu pula dengan belanja online yang mengganggu toko-toko konvensional," ungkap Wakil Ketua Pengadilan Agama Rangkasbitung, Muhamad Isna Wahyudi, S.H.I., M.S.I., dalam sambutannya ketika membuka acara sosialisasi e-court kepaniteraan Pengadilan Agama Rangkasbitung dengan advokat se-wilayah Kabupaten Lebak, Jumat (12/7). Lebih lanjut Wakil Ketua juga menjelaskan bahwa melalui e-court diharapkan mampu meningkatkan pelayanan publik, dan peradilan dapat dilakukan secara sederhana, cepat, dan biaya ringan. Para advokat tidak perlu antri mendaftarkan perkara di kantor Pengadilan Agama, cukup di kantor masing-masing. Inilah mengapa sosialisasi e-court ini penting untuk diselenggarakan.

       

Acara inti sosialisasi e-court tersebut diawali dengan pengantar singkat tentang e-court dan perkembangan PERMA No. 3 Tahun 2018 oleh Wakil Ketua, simulasi tentang e-filing oleh admin IT Pengadilan Agama Rangkasbitung, Fikri Nugraha, dan e-payment melalui virtual account BSM oleh Bapak Ayat dari perwakilan BSM, dan tanya jawab dengan peserta sosialisasi yang juga melibatkan para hakim dan para panitera pengganti.

Acara berlangsung cukup hidup, dan antusiame para peserta cukup tinggi, dan diakhiri dengan foto bersama. Hingga saat ini Pengadilan Agama Rangkasbitung telah menerima perkara yang didaftarkan secara elektronik.